Awalnya
saya ragu, bahkan takut untuk menulis buku ini. Namun dengan keinginan yang
lebih kuat dari keraguan dan dorongan yang juga lebih kuat dari ketakutan
akhirnya buku dapat terselesaikan. Kenapa saya merasa ragu untuk menulis buku
ini. Pertama, saya ragu kalau tulisan saya tidak layak untuk dibaca, karena
saya juga orang yang sedang belajar menulis. Kedua, saya ragu kalau tulisan ini
tidak akan seperti apa yang diharapkan
dan membuat orang bingung atau tidak mengerti dengan apa yang saya tulis di
buku ini.
Kemudian
kenapa saya merasa takut untuk menulis buku ini. Nah pertanyaan kedua ini yang
membuat buku ini tidak ditulis dengan segera. Banyak sekali alasan-alasan yang
membuat saya takut untuk tidak menulis buku ini. Pertama, saya takut apabila
dengan adanya buku ini, banyak orang yang berpindah keyakinan dalam beribadah
maupun beragama. karena dalam buku ini akan mengulas hal-hal yang tidak wajar
dalam menjalankan kehidupan beragama yang normalnya orang lakukan. Kedua, saya
takut dengan kecaman atau ancaman orang-orang atau bisa juga serangan dari
orang-orang yang tidak setuju dengan isi yang ada di dalam buku ini. Saya tidak
takut kalau saya akan dibilang kafir atau orang yang tidak tahu agama, karena
saya mengakui bahwa saya tidak faham agama. Saya masih percaya kalau kafir atau
tidaknya seseorang itu yang menentukan Tuhan. Namun yang membuat saya takut
adalah, mereka (orang-orang yang merasa suci) akan datang untuk menghakimi dan
mungkin membunuh saya dengan cara yang agama manapun tidak mengajarkan hal tersebut.
Masih banyak alasan yang membuat saya takut untuk menullis buku ini, hingga
akhirnya saya memutuskan untuk menyimpan karena banyaknya dorongan yang membuat
saya berani untuk menulis buku ini.
Sudut
pandang. Ditilik dari judulnya saja sudah bisa ditebak bahwa buku ini akan
mengulas beberapa hal dalam menjalani kehidupan beragama dengan
cara yang “berbeda”. Sudut Pandang saya jadikan judul karena beberapa orang
yang telah berdiskusi bersama dengan saya selalu memiliki kata itu setelah selesai
berdiskusi. Terus apa yang membuat mereka menyimpulkan kata itu dalam otaknya.
Berawal dari teman yang mengajak diskusi di waktu senggang, mereka menanyakan
berbagai hal tentang agama hingga sampai larut malam karena terlalu asyiknya
berdiskusi. Banyak yang tidak setuju dengan cara berfikir saya dalam
menjalankan agama, namun tidak sedikit pula yang ketagihan untuk terus
berdiskusi mengenai hal-hal baru yang tidak pernah mereka dapatkan dari buku atau
kitab manapun.
Ada
banyak sekali pertanyaan yang mereka ajukan, mulai dari hal-hal yang berkaitan dengan syariat islam,
ibadah, shalat dan lain sebagainya sampai hal-hal yang membuat saya bingung untuk
menjawab seperti halnya zat-zat “makhluk lain” atau kehidupan lain dalam satu dunia ini. Oleh karena itu saya
bermaksud untuk merangkum semua jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang
sering teman-teman ajukan untuk lebih mudah mengingat apabila ada yang
menanyakan hal yang serupa.
Berawal dari pengalaman
sendiri, saya mulai mencari-cari arti kehidupan dalam menjalankan agama. Saya
selalu bosan dalam beribadah dengan model atau cara-cara yang seperti itu-itu
saja, tidak pernah ada perubahan dalam ibadah. Akhirnya saya memutuskan dari
kebiasaan-kebiasaan saya untuk merubah kebiasaan tersebut. Apa maksud dari kata “itu-itu
saja”? Ya, saya merasa bosan saja seperti shalat yang hanya begitu saja tanpa
adanya peningkatan. Dari situlah saya merasa bosan dengan shalat. Akhirnya saya
merenungi cara saya beragama hingga saya memutuskan untuk menyetel ulang
dalam beragama. Pada kesempatan ini saya tidak menulis apa itu agama atau apa
itu islam karena pembahasan itu akan sangat melebar. Kali ini saya akan menulis
jawaban-jawaban yang sering teman-teman tanyakan, yaitu mengenai ibadah
keseharian. Untuk lebih memudahkan urutan pertanyaan yang sering muncul, saya
akan membahasnya dalam rukun islam.
Selamat membaca di tulisan selanjutnya ^_^

0 komentar:
Posting Komentar