RSS

SUDUT PANDANG I

                      Awalnya saya ragu, bahkan takut untuk menulis buku ini. Namun dengan keinginan yang lebih kuat dari keraguan dan dorongan yang juga lebih kuat dari ketakutan akhirnya buku dapat terselesaikan. Kenapa saya merasa ragu untuk menulis buku ini. Pertama, saya ragu kalau tulisan saya tidak layak untuk dibaca, karena saya juga orang yang sedang belajar menulis. Kedua, saya ragu kalau tulisan ini tidak akan  seperti apa yang diharapkan dan membuat orang bingung atau tidak mengerti dengan apa yang saya tulis di buku ini.
Kemudian kenapa saya merasa takut untuk menulis buku ini. Nah pertanyaan kedua ini yang membuat buku ini tidak ditulis dengan segera. Banyak sekali alasan-alasan yang membuat saya takut untuk tidak menulis buku ini. Pertama, saya takut apabila dengan adanya buku ini, banyak orang yang berpindah keyakinan dalam beribadah maupun beragama. karena dalam buku ini akan mengulas hal-hal yang tidak wajar dalam menjalankan kehidupan beragama yang normalnya orang lakukan. Kedua, saya takut dengan kecaman atau ancaman orang-orang atau bisa juga serangan dari orang-orang yang tidak setuju dengan isi yang ada di dalam buku ini. Saya tidak takut kalau saya akan dibilang kafir atau orang yang tidak tahu agama, karena saya mengakui bahwa saya tidak faham agama. Saya masih percaya kalau kafir atau tidaknya seseorang itu yang menentukan Tuhan. Namun yang membuat saya takut adalah, mereka (orang-orang yang merasa suci) akan datang untuk menghakimi dan mungkin membunuh saya dengan cara yang agama manapun tidak mengajarkan hal tersebut. Masih banyak alasan yang membuat saya takut untuk menullis buku ini, hingga akhirnya saya memutuskan untuk menyimpan karena banyaknya dorongan yang membuat saya berani untuk menulis buku ini.
Sudut pandang. Ditilik dari judulnya saja sudah bisa ditebak bahwa buku ini akan mengulas beberapa hal dalam menjalani kehidupan beragama dengan cara yang “berbeda”. Sudut Pandang saya jadikan judul karena beberapa orang yang telah berdiskusi bersama dengan saya selalu memiliki kata itu setelah selesai berdiskusi. Terus apa yang membuat mereka menyimpulkan kata itu dalam otaknya. Berawal dari teman yang mengajak diskusi di waktu senggang, mereka menanyakan berbagai hal tentang agama hingga sampai larut malam karena terlalu asyiknya berdiskusi. Banyak yang tidak setuju dengan cara berfikir saya dalam menjalankan agama, namun tidak sedikit pula yang ketagihan untuk terus berdiskusi mengenai hal-hal baru yang tidak pernah mereka dapatkan dari buku atau kitab manapun.
Ada banyak sekali pertanyaan yang mereka ajukan, mulai dari hal-hal yang berkaitan dengan syariat islam, ibadah, shalat dan lain sebagainya sampai hal-hal yang membuat saya bingung untuk menjawab seperti halnya zat-zat “makhluk lain” atau kehidupan lain  dalam satu dunia ini. Oleh karena itu saya bermaksud untuk merangkum semua jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang sering teman-teman ajukan untuk lebih mudah mengingat apabila ada yang menanyakan hal yang serupa.
              Berawal dari pengalaman sendiri, saya mulai mencari-cari arti kehidupan dalam menjalankan agama. Saya selalu bosan dalam beribadah dengan model atau cara-cara yang seperti itu-itu saja, tidak pernah ada perubahan dalam ibadah. Akhirnya saya memutuskan dari kebiasaan-kebiasaan saya untuk merubah kebiasaan tersebut. Apa maksud dari kata “itu-itu saja”? Ya, saya merasa bosan saja seperti shalat yang hanya begitu saja tanpa adanya peningkatan. Dari situlah saya merasa bosan dengan shalat. Akhirnya saya merenungi cara saya beragama hingga saya memutuskan untuk menyetel ulang dalam beragama. Pada kesempatan ini saya tidak menulis apa itu agama atau apa itu islam karena pembahasan itu akan sangat melebar. Kali ini saya akan menulis jawaban-jawaban yang sering teman-teman tanyakan, yaitu mengenai ibadah keseharian. Untuk lebih memudahkan urutan pertanyaan yang sering muncul, saya akan membahasnya dalam rukun islam.

Selamat membaca di tulisan selanjutnya ^_^


0 komentar:

Posting Komentar