RSS

Papuma

"Kita tak pernah tahu masa depan, namun masa lalu tak pernah berubah"
Lagi, Daz menenangkan. Namun aku tak paham maksudnya.
Angin masih berhembus, membuat perahu-perahu kecil bergoyang tak seirama.

Another Balai Kemambang 1

Para pujangga merangkai kata, merujuk arti bermakna cinta.
Matahari berkilau orange, menebar mega di ujung senja.
"Bagaimana kalau semua menghilang?" Bintang berandai-andai
"Hah? maksud mu?" Dina terkaget heeran
"Iya, hilang. semua orang di sini hilang..." jawab Bintang dengan santai
Dina memandang jauh ke atas langit, mencari jawaban dari khayalan Bintang.
Sore itu suasana di taman sangat riuh. Teriakan gembira menggema di sana-sini. Ya, kegemberiaan terpancar di wajah mereka yang mengalir dari hati.
Dua anak sedang berkejaran, segerombolan remaja berumuran sma berbincang ramai di atas ayunan kayu. Seorang ibu muda mengajari anaknya untuk memberi makan ke ikan-ikan dalam kolam besar di tengah taman.
Di tengah bangunan di atas kolam besar yang melingkar, sepasang kekasih ber-selfie ria. Siluet memberi kesan lebih indah pada foto yang mereka ambil. matahari bersiap-siap untuk menghilang...
"Bintang! yeee... malah ngelamun..." seru Dina. mengagetkan
"Ah sorry, eh Din lihat tuh..." Bintang menunjuk matahari.
"Berani menghitung?" lanjutnya
"menghitung? untuk apa? kan sudah jelas matahari cuma satu?"
"dengerin baik-baik... bentar lagi kan matahari akan tenggelam, nah kita akan menghitung di angka berapa matahari akan hilang" jelasnya
"terus..." Dina penasaran
"terus kita tidak boleh memalingkan mata dari matahari itu" lanjut Bintang
"ih, kurang kerjaan banget..." tolak Dina

DUA KATA

"Braaaakk...!!"
Un, menutup pintu keras-keras. Narto, ayah Un sangat jengkel melihat tingkah anaknya sepulang kuliah.
"Un..!!!?" Ayah Un, menegur keras..
Un tidak peduli. ia segera lepas sepatu,lempar tas sembarangan, dan membanting tubuhnya di atas kasur
"Kuliahe priwe??" tanya ayah Un.
"Berisik lah! Inyong kesel!" Bentak Un dari dalam kamar

Cinta, Wanita, Dusta

"Ya, aku lebih banyak bercinta dengan sastra, dari pada bercinta dengan wanita yang penuh dusta"
Plak! telapak tangan melayang bebas di udara, hingga akhirnya terjun bebas ke pipi ku.
"Kau bilang bunga mawar pendusta, lalu kau sebut apa ibu mu?"
Hening, aku tak mampu berkata. Bahkan seekor jangkrik pun beringsut mundur menyembunyikan suaranya.