RSS

SUDUT PANDANG II


I. RUKUN ISLAM
Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, saya tidak merubah tatanan agama yang sudah ada. Sama sekali tidak ada maksud untuk merubah, apalagi mengganti. Semua yang saya tulis adalah cara saya sendiri dalam beribadah. Saya tidak merubah pengertian atau menambahkan rukun islam yang ada. Pengertian atau rukun islam tetap saya ikuti sebagaimana orang-orang ikuti, yang saya tekankan di sini hanyalah dalam hal menjalankannya saja.
A.    SYAHADAT
Kita tahu banhwa syahadat merupakan langkah awal atau syarat pertama apabila kita ingin masuk islam atau menjadi seorang muslim. Dengan mengucapkan dua kalimat syahadat, yaitu syahadat tauhid dan syahadat rosul, maka seseorang dinyatakan menjadi seorang muslim. Pertanyaan pertama yang muncul dari fikiran saya adalah, kenapa kita harus melafalkan dengan kata atau bahasa yang tepat. Atau lebih detailnya lagi panjang pendeknya huruf harus tepat karena itu menyangkut tentang keimanan. Pertanyaan itu muncul saat pertama kali saya mengucapkan syahadat, saya harus mengulangi kalimat itu berulang-ulang karena lidah saya sangat sulit mengucapkan kaimat tersebut karena tidak terbiasa. Pertanyaan kedua adalah, bagaimana dengan seseorang yang tidak bisa berbicara, apakah mereka bisa dikatakan masu islam apabila mereka tidak mengucapkan dua kalimt syahadat tersebut. Kemudian apakah dengan mengucapkan atau melafalkan dua kalimat syahadat dengan benar akan menjadikan seseorang menjadi seorang muslim yang sejati. Saya yakin sebagian besar dari kita akan mengatakan “yang penting hatinya”. Coba kita kembali lagi ke kasus yang ada di atas, apabila kita mengucapkan dua kalimat syahadat dengan benar dan baik namun hatinya tidak seperti apa yang diucapkan, apakah itu inti dari bersyahadat? Kemudian, apakah seseorang yang tidak bisa bicara tetapi hati sangat meyakini dan memahami kandungan dua kalimat syahadat tidak menjadikannya seorang muslim? Kembali lagi pasti kita akan berpendapat dengan “yang penting hatinya”. Saya kira itu awal syahadat yang benar. Apabila kita mengucapkan dan disertai dengan hati yang tulus, hari yang memahami akan kandungan dari kalimat tersebut, maka kita baru bisa dikatakan seseorang tersebut sudah dapat menjadi seorang muslim atau muslimah.
Pertanyaan yang kedua adalah, kenapa kita harus menyatakan atau melaflkan kedua kalimat syahadat tersebut. Kenapa tidak dengan kalimat yang lain atau bacaan yang lain yang lebih panjang dan lebih banyak. Mungkin sebagian besar orang muslim akan mengatakan “itu sudah menjadi ketentuan”. Pertama adalah syahadat tauhid, mengapa kita harus mengucapkan atau meyakini syahadat tauhid. Memang jikalau seseorang akan memasuki agama, maka hal yang pertama yang harus diyakini adalah Tuhan. Itulah sebabnya mengapa kalau syahadat tauhid menjadi hak mutlak dalam menjadi seorang muslim. Kedua adalah syahadat rosul. Kita sudah meyakini bahwa tiada Tuhan Selain Allah, kenapa kita harus mengucapkan syahadat yang kedua. Mungkin hal ini yang banyak dari kita belum memahami. Syahadat rosul merupakan syahadat pengingat kita, bahwa Muhammad hanyalah seorang nabi. Kita seharusnya flashback ke belakang, jauh sebelum adanya Islam. Allah sudah menurunkan banyak nabi, dan para pengikutnya. Namun ada salah satu dari nabi tersebut yang akhirnya dijadikan Tuhan oleh pengikutnya. Oleh sebab itu, dalam kalimat syahadat yang kedua dijelaskan kembali bahwa Muhammad adalah rosul Allah, yang mana kita tidak boleh dan tidak akan menjdikannya atau bahkan menyembahnya sebagai Tuhan seperti yang dilakukan oleh pendahulu kita. saya kira itulah alasan kenapa Allah menyalipkan kalimat kedua dalam syahadat.
Pertanyaan selanjutnya adalah, setelah kita benar-benar mengucapkan dua kalimat syahadat, apaka kita benar-benar sudah menjadi seorang muslim sungguhan. Kenapa pertanyaan ini muncul, karena saya yakin orang islam hanya ada satu di dunia, yaitu rosul kita Muhammad saw. Kita seutuhnya bukan seorang muslim, kita hanya mencoba dan selalu mencoba untuk menjadi seorang muslim dengan mengikuti apa yang beliau (rosul) lakukan dan sabdakan. Jadi apakah kita benar-benar seorang muslim yang sesungguhnya, saya kira kita semua sudah mempunyai jawaban. Apalagi tentang tingkat keimanan kita, itu merupakan hal yang sangat kecil sekali untuk menyatakan kita seorang muslim yang sesungguhnya. Ambil saja satu contoh tentang zaman atau waktu. Ketika nabi masih hidup dan terus menyebarkan agama islam, di waktu itu atau zaman itu yang godaannya sudah pasti berbeda dengan zaman sekarang, di waktu itu teknologi dan pengetahuan yang sangat berbeda jauh dengan zaman sekarang, di waktu tingkat kesulitan untuk hidup lebih susah dari zaman sekarang. Bisa dikatakan bahwa orang-orang dahulu di zaman itu akan meyakini Tuhan dengan sekuat hati dan sebenar-benarnya, pun masih banyak orang yang mengingkari Allah walau rosul sudah memberitahu tentang ketuhanan. Bagaimana dengan tingkat keimanan orang-orang muslim sekarang yang sudah sangat sangat jauh dari kehidupan zaman dahulu. Dengan tiadanya rosul, teknologi baru, godaan harta dan tahta. Apakah kita yakin kita masih bisa mengatakan kalau kita adalah muslim sejati?
Menjadi seorang muslim sungguhan merupakan sesuatu yang sangat berat di zaman sekarang ini. Saya sering merasa takut kalau saya melihat seseorang yang lebih mementingkan harta atau jabatan mereka. Mungkin mereka lupa apa yang pernah atau sering mereka ucapkan sewaktu mengucapkan syahadat. Apakah kita benar-benar menyatakan “Bahwa Tiada Tuhan Selain Allah dan Muhammad Adalah Utusan Allah” jikalau kita sering melupakannya dalam kehidupan sehari-hari, jikalau kita terus berfikir harta harta dan harta, jikalau kita memercayai mahluk atau hal lain seperti ciptaannya Allah yang lain. Jin, manusia atau alam yang sangat luar biasa itu merupakan hasil kasih sayang Allah. Namun kenapa kita sangat percaya dengan diri kita kalau harta kita itu milik kita? kenapa  kita selalu mengikat jabatan kita kalau itu hanya sementara? Kenapa kita ke gunung ke laut atau ke tempat-tempat yang bisa membuat kita  bisa  menjadi kaya? Saya kira kita sudah sangat jauh dari yang namanya iman di zaman sekarang apabila kita akan terus melakukan hal seperti itu.
Pertanyaan selanjutnya tentang syahadat adalah apakah kita tidak bisa mengganti arti dari dua kalimat syahadat tersebut. Sebagai seorang yang mencoba menjadi muslim di Indonesia, saya sangat tidak memahami dengan kalimat “Aku Bersaksi Bahwa Tiada Tuhan Selain Allah dan Aku Bersaksi Bahwa Muhammad Adalah Utusan Allah”. Seperti yang telah saya tulis di atas sebelumnya, bahwa aka nada banyak sekali orang yang akan menyerang atau menghakimi saya dengan kalimat ini. Apakah kita tidak boleh merubah arti dua kalimat syahadat untuk lebih memantapkan keyakinan saya dalam beriman? Dalam percaya kepada kebesaran Allah? Dalam meningkatkan ibadah kepada Allah?
Kalimat “Aku Bersaksi Bahwa Tiada Tuhan Selain Allah dan Aku Bersaksi Bahwa Muhammad Adalah Utusan Allah” seolah-olah kiasan yang dapat diucapkan biasa-biasa saja dalam hati saya. Saya tidak merasakan ada makna yang besar dalam kelimat tersebut. Seolah-olah saya hanya menyaksikan saja tanpa adanya pengaruh ke hati dan kemudian akan saya jalankan ke dalam perilaku kehidupan sehari-hari saya yang menyatakan bahwa Allah adalah Tuhanku. Oleh karena itu dengan tidak mengurangi sedikitpun rasa hormat saya kepada orang-orang yang sudah mengartikan dua kalimat syahadat tersebut saya mempunyai arti dan makna tersendiri dalam dua kaimat syahadat yang membuat saya akan selalu mengingat dan mengerti bahwa saya hanyalah makhluk ciptaanNya. “saya TIDAK menuhankan seluruh hasil ciptaan Rahman-Rahimnya Allah kecuali Allah itu sendiri yang memiliki sifat Rahman-Rahim. Termasuk malaikat bukan Tuhan saya, nabi bukan Tuhan saya, Al-qur’an bukan Tuhan saya, jin bukan Tuhan saya, alam semesta bukan Tuhan saya, gunuang laut tumbuhan matahari udara tanah ataupun akik semua itu bukanlah Tuhan saya! Apalagi surga? Itu hanyalah ciptaan Allah, hanya Allah Tuhan saya yang telah menciptakan itu semua” itulah makna dari kalimat syahadat yang saya ubah dan selalu saya gunakan dalam menjalani kehidupan sehari-hari selama ini. Saya yakin anda akan menghujat saya dengan luar biasa, tapi janganlah lihat siapa saya, saya hanyalah manusia yang juga ciptaan Allah. Semua yang saya yakini itu bukan berarti saya mengecilkan malaikat, nabi, al-qur’an ataupun surga. Seperti al-qur’an yang merupakan kalam Allah, yang merupakan ciptaan Allah sebagai alat penuntun manusia agar kita tetap menuju jalan Allah. Allah menciptakan Al-qur’an juga sebagai alat kita untuk berdemokrasi, apakah kita akan menjalankan kehidupan kita seutuh-utuhnya menuju Allah atau kita bernaung al-qur’an walaupun berbulu serigala. Yang jelas Allah sudah memberikan demokrasi dengan cara menurunkan Al-qur’an  untuk semua  manusia.  
          Pernah suatu hari saya sedang berkunjung ke ulama besar. Saat itu saya bertanya pertanyaan yang sama dengan yang di atas, apakah saya boleh merubah makna dari kalimat syahadat yang biasa orang umum pakai. Saat itu pula beliau menggebrak  meja dengan sangat keras dan wajah merah memadam. Saya tidak pernah melihat beliau yang berperangai halus dan baik tiba-tiba menjadi sangat marah. Saya tahu kalau beliau tidak akan pernah menoleransi apabila berkaitan dengan yang namanya tauhid. Anehnya, saya merasa tenang dan yakin. Dengan rileks saya menjawab seperti yang ada di dalam tulisan tersebut, saya jelaskan dengan sedetail-detailnya hingga beliau tiba-tiba mengajak salaman dan berkata “itu adalah syahadat yang benar!” sejak saat itu saya menggunakan makna dari syahadat itu dalam menjalankan kehidupan beragama.

SUDUT PANDANG I

                      Awalnya saya ragu, bahkan takut untuk menulis buku ini. Namun dengan keinginan yang lebih kuat dari keraguan dan dorongan yang juga lebih kuat dari ketakutan akhirnya buku dapat terselesaikan. Kenapa saya merasa ragu untuk menulis buku ini. Pertama, saya ragu kalau tulisan saya tidak layak untuk dibaca, karena saya juga orang yang sedang belajar menulis. Kedua, saya ragu kalau tulisan ini tidak akan  seperti apa yang diharapkan dan membuat orang bingung atau tidak mengerti dengan apa yang saya tulis di buku ini.
Kemudian kenapa saya merasa takut untuk menulis buku ini. Nah pertanyaan kedua ini yang membuat buku ini tidak ditulis dengan segera. Banyak sekali alasan-alasan yang membuat saya takut untuk tidak menulis buku ini. Pertama, saya takut apabila dengan adanya buku ini, banyak orang yang berpindah keyakinan dalam beribadah maupun beragama. karena dalam buku ini akan mengulas hal-hal yang tidak wajar dalam menjalankan kehidupan beragama yang normalnya orang lakukan. Kedua, saya takut dengan kecaman atau ancaman orang-orang atau bisa juga serangan dari orang-orang yang tidak setuju dengan isi yang ada di dalam buku ini. Saya tidak takut kalau saya akan dibilang kafir atau orang yang tidak tahu agama, karena saya mengakui bahwa saya tidak faham agama. Saya masih percaya kalau kafir atau tidaknya seseorang itu yang menentukan Tuhan. Namun yang membuat saya takut adalah, mereka (orang-orang yang merasa suci) akan datang untuk menghakimi dan mungkin membunuh saya dengan cara yang agama manapun tidak mengajarkan hal tersebut. Masih banyak alasan yang membuat saya takut untuk menullis buku ini, hingga akhirnya saya memutuskan untuk menyimpan karena banyaknya dorongan yang membuat saya berani untuk menulis buku ini.
Sudut pandang. Ditilik dari judulnya saja sudah bisa ditebak bahwa buku ini akan mengulas beberapa hal dalam menjalani kehidupan beragama dengan cara yang “berbeda”. Sudut Pandang saya jadikan judul karena beberapa orang yang telah berdiskusi bersama dengan saya selalu memiliki kata itu setelah selesai berdiskusi. Terus apa yang membuat mereka menyimpulkan kata itu dalam otaknya. Berawal dari teman yang mengajak diskusi di waktu senggang, mereka menanyakan berbagai hal tentang agama hingga sampai larut malam karena terlalu asyiknya berdiskusi. Banyak yang tidak setuju dengan cara berfikir saya dalam menjalankan agama, namun tidak sedikit pula yang ketagihan untuk terus berdiskusi mengenai hal-hal baru yang tidak pernah mereka dapatkan dari buku atau kitab manapun.
Ada banyak sekali pertanyaan yang mereka ajukan, mulai dari hal-hal yang berkaitan dengan syariat islam, ibadah, shalat dan lain sebagainya sampai hal-hal yang membuat saya bingung untuk menjawab seperti halnya zat-zat “makhluk lain” atau kehidupan lain  dalam satu dunia ini. Oleh karena itu saya bermaksud untuk merangkum semua jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang sering teman-teman ajukan untuk lebih mudah mengingat apabila ada yang menanyakan hal yang serupa.
              Berawal dari pengalaman sendiri, saya mulai mencari-cari arti kehidupan dalam menjalankan agama. Saya selalu bosan dalam beribadah dengan model atau cara-cara yang seperti itu-itu saja, tidak pernah ada perubahan dalam ibadah. Akhirnya saya memutuskan dari kebiasaan-kebiasaan saya untuk merubah kebiasaan tersebut. Apa maksud dari kata “itu-itu saja”? Ya, saya merasa bosan saja seperti shalat yang hanya begitu saja tanpa adanya peningkatan. Dari situlah saya merasa bosan dengan shalat. Akhirnya saya merenungi cara saya beragama hingga saya memutuskan untuk menyetel ulang dalam beragama. Pada kesempatan ini saya tidak menulis apa itu agama atau apa itu islam karena pembahasan itu akan sangat melebar. Kali ini saya akan menulis jawaban-jawaban yang sering teman-teman tanyakan, yaitu mengenai ibadah keseharian. Untuk lebih memudahkan urutan pertanyaan yang sering muncul, saya akan membahasnya dalam rukun islam.

Selamat membaca di tulisan selanjutnya ^_^