RSS

Angan

Merengkuh jiwa di tengah malam
Melukis  cita dalam lautan
Hening, tiada awan bergelagar
Merasuk hati  lewat bayangan


Kau,
Menari riang di tengah gersang
Menggoda  merayu manja
Menarik ku melangkah ke tengah samudra


Bersatu berguling dengan ombak
Berdebur gelora jiwa
Mengguncang semua bahana

Berputar, berpesta menari indah dalam taburan bintang di tengah malam

Gundah

krisis moral?
oh tidak! aku pejuang agama!
tapi kok anarkis?
ini bukan anarkis, ini demi agama!

kini putih tak lagi bersih
apalagi suci nan bersinar
hitam pekat menggerogoti
busuk menempel di hati

ah kau ini sebenarnya siapa?
berjuang untuk apa?
atau untuk siapa?
dengarkan hati kecil mu

ah, atau mungkin hati kecil mu juga sudah busuk?

Cahaya Kelam


Segersang jiwa dalam raga
Merobek cahaya alam raya
Musnah, musnah semua bahagia
Dalam gelap iman penuh dusta

Aku rindu
Bersujud memuja Mu
Berdo’a menangis manja
Berharap penuh percaya

Kini aku kotor
Lebih kotor dari debu hitam
Dan aku hina
Bahkan lebih hina dari semua cipta

Gemerlap bintang tak lagi terang
Terkubur dalam nuansa kelam
Aku akan hilang
Hilang bersama cahaya kelam


Papuma

"Kita tak pernah tahu masa depan, namun masa lalu tak pernah berubah"
Lagi, Daz menenangkan. Namun aku tak paham maksudnya.
Angin masih berhembus, membuat perahu-perahu kecil bergoyang tak seirama.

Another Balai Kemambang 1

Para pujangga merangkai kata, merujuk arti bermakna cinta.
Matahari berkilau orange, menebar mega di ujung senja.
"Bagaimana kalau semua menghilang?" Bintang berandai-andai
"Hah? maksud mu?" Dina terkaget heeran
"Iya, hilang. semua orang di sini hilang..." jawab Bintang dengan santai
Dina memandang jauh ke atas langit, mencari jawaban dari khayalan Bintang.
Sore itu suasana di taman sangat riuh. Teriakan gembira menggema di sana-sini. Ya, kegemberiaan terpancar di wajah mereka yang mengalir dari hati.
Dua anak sedang berkejaran, segerombolan remaja berumuran sma berbincang ramai di atas ayunan kayu. Seorang ibu muda mengajari anaknya untuk memberi makan ke ikan-ikan dalam kolam besar di tengah taman.
Di tengah bangunan di atas kolam besar yang melingkar, sepasang kekasih ber-selfie ria. Siluet memberi kesan lebih indah pada foto yang mereka ambil. matahari bersiap-siap untuk menghilang...
"Bintang! yeee... malah ngelamun..." seru Dina. mengagetkan
"Ah sorry, eh Din lihat tuh..." Bintang menunjuk matahari.
"Berani menghitung?" lanjutnya
"menghitung? untuk apa? kan sudah jelas matahari cuma satu?"
"dengerin baik-baik... bentar lagi kan matahari akan tenggelam, nah kita akan menghitung di angka berapa matahari akan hilang" jelasnya
"terus..." Dina penasaran
"terus kita tidak boleh memalingkan mata dari matahari itu" lanjut Bintang
"ih, kurang kerjaan banget..." tolak Dina

DUA KATA

"Braaaakk...!!"
Un, menutup pintu keras-keras. Narto, ayah Un sangat jengkel melihat tingkah anaknya sepulang kuliah.
"Un..!!!?" Ayah Un, menegur keras..
Un tidak peduli. ia segera lepas sepatu,lempar tas sembarangan, dan membanting tubuhnya di atas kasur
"Kuliahe priwe??" tanya ayah Un.
"Berisik lah! Inyong kesel!" Bentak Un dari dalam kamar

Cinta, Wanita, Dusta

"Ya, aku lebih banyak bercinta dengan sastra, dari pada bercinta dengan wanita yang penuh dusta"
Plak! telapak tangan melayang bebas di udara, hingga akhirnya terjun bebas ke pipi ku.
"Kau bilang bunga mawar pendusta, lalu kau sebut apa ibu mu?"
Hening, aku tak mampu berkata. Bahkan seekor jangkrik pun beringsut mundur menyembunyikan suaranya.

Orang Suci

Aku muak! Iya, muak! Muak melihat semua hal yang semu. Bayangkan saja, setiap orang berbalik 180 derajat menjadi orang yang merasa dirinya  telah bersih, telah suci, bagai anak kecil yang dilahirkan kembali dari surga! Itu semua hanyalah omong kosong, Bulshit!
Lupakah perbuatan kau kemarin? Mencungkil Mata Tuhan dengan sebilah belati?! Merongrong maksa di tengah malam yang syahdu?
kau tutup semua hitam kelam itu dengan seutas tali putih, dengan baju baru yang sangat kau banggakan itu. itu lah kau...

Suasana Kelas

Kembali dosen memencet tombol "Next" untuk melanjutkan power pointnya. ia kembali menceritakan mata kuliah yang sedang diajarkan. mahasiswa ribut, "ngobrol" kesana-kemari. Ini Lucu!! mereka tak memperhatikan dosen yang mengajar sampai mulut berbusa.oh tidak! ternyata sang dosen tidak peduli dengan mahasiswanya. ia tak memahami kapan mahasiswa bisa mengerti yang diajarnya.