I. RUKUN ISLAM
Seperti
yang sudah saya katakan sebelumnya, saya tidak merubah tatanan agama yang sudah
ada. Sama sekali tidak ada maksud untuk merubah, apalagi mengganti. Semua yang
saya tulis adalah cara saya sendiri dalam beribadah. Saya tidak merubah
pengertian atau menambahkan rukun islam yang ada. Pengertian atau rukun islam
tetap saya ikuti sebagaimana orang-orang ikuti, yang saya tekankan di sini
hanyalah dalam hal menjalankannya saja.
A. SYAHADAT
Kita
tahu banhwa syahadat merupakan langkah awal atau syarat pertama apabila kita
ingin masuk islam atau menjadi seorang muslim. Dengan mengucapkan dua kalimat
syahadat, yaitu syahadat tauhid dan syahadat rosul, maka seseorang dinyatakan
menjadi seorang muslim. Pertanyaan pertama yang muncul dari fikiran saya
adalah, kenapa kita harus melafalkan dengan kata atau bahasa yang tepat. Atau
lebih detailnya lagi panjang pendeknya huruf harus tepat karena itu menyangkut
tentang keimanan. Pertanyaan itu muncul saat pertama kali saya mengucapkan
syahadat, saya harus mengulangi kalimat itu berulang-ulang karena lidah saya
sangat sulit mengucapkan kaimat tersebut karena tidak terbiasa. Pertanyaan
kedua adalah, bagaimana dengan seseorang yang tidak bisa berbicara, apakah
mereka bisa dikatakan masu islam apabila mereka tidak mengucapkan dua kalimt
syahadat tersebut. Kemudian apakah dengan mengucapkan atau melafalkan dua
kalimat syahadat dengan benar akan menjadikan seseorang menjadi seorang muslim
yang sejati. Saya yakin sebagian besar dari kita akan mengatakan “yang penting
hatinya”. Coba kita kembali lagi ke kasus yang ada di atas, apabila kita
mengucapkan dua kalimat syahadat dengan benar dan baik namun hatinya tidak
seperti apa yang diucapkan, apakah itu inti dari bersyahadat? Kemudian, apakah
seseorang yang tidak bisa bicara tetapi hati sangat meyakini dan memahami
kandungan dua kalimat syahadat tidak menjadikannya seorang muslim? Kembali lagi
pasti kita akan berpendapat dengan “yang penting hatinya”. Saya kira itu awal
syahadat yang benar. Apabila kita mengucapkan dan disertai dengan hati yang
tulus, hari yang memahami akan kandungan dari kalimat tersebut, maka kita baru
bisa dikatakan seseorang tersebut sudah dapat menjadi seorang muslim atau
muslimah.
Pertanyaan
yang kedua adalah, kenapa kita harus menyatakan atau melaflkan kedua kalimat
syahadat tersebut. Kenapa tidak dengan kalimat yang lain atau bacaan yang lain
yang lebih panjang dan lebih banyak. Mungkin sebagian besar orang muslim akan
mengatakan “itu sudah menjadi ketentuan”. Pertama adalah syahadat tauhid,
mengapa kita harus mengucapkan atau meyakini syahadat tauhid. Memang jikalau
seseorang akan memasuki agama, maka hal yang pertama yang harus diyakini adalah
Tuhan. Itulah sebabnya mengapa kalau syahadat tauhid menjadi hak mutlak dalam
menjadi seorang muslim. Kedua adalah syahadat rosul. Kita sudah meyakini bahwa
tiada Tuhan Selain Allah, kenapa kita harus mengucapkan syahadat yang kedua.
Mungkin hal ini yang banyak dari kita belum memahami. Syahadat rosul merupakan
syahadat pengingat kita, bahwa Muhammad hanyalah seorang nabi. Kita seharusnya
flashback ke belakang, jauh sebelum adanya Islam. Allah sudah menurunkan banyak
nabi, dan para pengikutnya. Namun ada salah satu dari nabi tersebut yang
akhirnya dijadikan Tuhan oleh pengikutnya. Oleh sebab itu, dalam kalimat
syahadat yang kedua dijelaskan kembali bahwa Muhammad adalah rosul Allah, yang
mana kita tidak boleh dan tidak akan menjdikannya atau bahkan menyembahnya
sebagai Tuhan seperti yang dilakukan oleh pendahulu kita. saya kira itulah
alasan kenapa Allah menyalipkan kalimat kedua dalam syahadat.
Pertanyaan
selanjutnya adalah, setelah kita benar-benar mengucapkan dua kalimat syahadat,
apaka kita benar-benar sudah menjadi seorang muslim sungguhan. Kenapa
pertanyaan ini muncul, karena saya yakin orang islam hanya ada satu di dunia,
yaitu rosul kita Muhammad saw. Kita seutuhnya bukan seorang muslim, kita hanya
mencoba dan selalu mencoba untuk menjadi seorang muslim dengan mengikuti apa
yang beliau (rosul) lakukan dan sabdakan. Jadi apakah kita benar-benar seorang
muslim yang sesungguhnya, saya kira kita semua sudah mempunyai jawaban. Apalagi
tentang tingkat keimanan kita, itu merupakan hal yang sangat kecil sekali untuk
menyatakan kita seorang muslim yang sesungguhnya. Ambil saja satu contoh
tentang zaman atau waktu. Ketika nabi masih hidup dan terus menyebarkan agama
islam, di waktu itu atau zaman itu yang godaannya sudah pasti berbeda dengan
zaman sekarang, di waktu itu teknologi dan pengetahuan yang sangat berbeda jauh
dengan zaman sekarang, di waktu tingkat kesulitan untuk hidup lebih susah dari
zaman sekarang. Bisa dikatakan bahwa orang-orang dahulu di zaman itu akan
meyakini Tuhan dengan sekuat hati dan sebenar-benarnya, pun masih banyak orang
yang mengingkari Allah walau rosul sudah memberitahu tentang ketuhanan.
Bagaimana dengan tingkat keimanan orang-orang muslim sekarang yang sudah sangat
sangat jauh dari kehidupan zaman dahulu. Dengan tiadanya rosul, teknologi baru,
godaan harta dan tahta. Apakah kita yakin kita masih bisa mengatakan kalau kita
adalah muslim sejati?
Menjadi
seorang muslim sungguhan merupakan sesuatu yang sangat berat di zaman sekarang
ini. Saya sering merasa takut kalau saya melihat seseorang yang lebih
mementingkan harta atau jabatan mereka. Mungkin mereka lupa apa yang pernah
atau sering mereka ucapkan sewaktu mengucapkan syahadat. Apakah kita
benar-benar menyatakan “Bahwa Tiada Tuhan Selain Allah dan Muhammad Adalah
Utusan Allah” jikalau kita sering melupakannya dalam kehidupan sehari-hari,
jikalau kita terus berfikir harta harta dan harta, jikalau kita memercayai
mahluk atau hal lain seperti ciptaannya Allah yang lain. Jin, manusia atau alam
yang sangat luar biasa itu merupakan hasil kasih sayang Allah. Namun kenapa
kita sangat percaya dengan diri kita kalau harta kita itu milik kita?
kenapa kita selalu mengikat jabatan kita
kalau itu hanya sementara? Kenapa kita ke gunung ke laut atau ke tempat-tempat
yang bisa membuat kita bisa menjadi kaya? Saya kira kita sudah sangat
jauh dari yang namanya iman di zaman sekarang apabila kita akan terus melakukan
hal seperti itu.
Pertanyaan
selanjutnya tentang syahadat adalah apakah kita tidak bisa mengganti arti dari dua
kalimat syahadat tersebut. Sebagai seorang yang mencoba menjadi muslim di
Indonesia, saya sangat tidak memahami dengan kalimat “Aku Bersaksi Bahwa Tiada
Tuhan Selain Allah dan Aku Bersaksi Bahwa Muhammad Adalah Utusan Allah”.
Seperti yang telah saya tulis di atas sebelumnya, bahwa aka nada banyak sekali
orang yang akan menyerang atau menghakimi saya dengan kalimat ini. Apakah kita
tidak boleh merubah arti dua kalimat syahadat untuk lebih memantapkan keyakinan
saya dalam beriman? Dalam percaya kepada kebesaran Allah? Dalam meningkatkan
ibadah kepada Allah?
Kalimat
“Aku Bersaksi Bahwa Tiada Tuhan Selain Allah dan Aku Bersaksi Bahwa Muhammad
Adalah Utusan Allah” seolah-olah kiasan yang dapat diucapkan biasa-biasa saja
dalam hati saya. Saya tidak merasakan ada makna yang besar dalam kelimat
tersebut. Seolah-olah saya hanya menyaksikan saja tanpa adanya pengaruh ke hati
dan kemudian akan saya jalankan ke dalam perilaku kehidupan sehari-hari saya
yang menyatakan bahwa Allah adalah Tuhanku. Oleh karena itu dengan tidak
mengurangi sedikitpun rasa hormat saya kepada orang-orang yang sudah
mengartikan dua kalimat syahadat tersebut saya mempunyai arti dan makna
tersendiri dalam dua kaimat syahadat yang membuat saya akan selalu mengingat
dan mengerti bahwa saya hanyalah makhluk ciptaanNya. “saya TIDAK menuhankan
seluruh hasil ciptaan Rahman-Rahimnya Allah kecuali Allah itu sendiri yang
memiliki sifat Rahman-Rahim. Termasuk malaikat bukan Tuhan saya, nabi bukan
Tuhan saya, Al-qur’an bukan Tuhan saya, jin bukan Tuhan saya, alam semesta
bukan Tuhan saya, gunuang laut tumbuhan matahari udara tanah ataupun akik semua
itu bukanlah Tuhan saya! Apalagi surga? Itu hanyalah ciptaan Allah, hanya Allah
Tuhan saya yang telah menciptakan itu semua” itulah makna dari kalimat syahadat
yang saya ubah dan selalu saya gunakan dalam menjalani kehidupan sehari-hari
selama ini. Saya yakin anda akan menghujat saya dengan luar biasa, tapi
janganlah lihat siapa saya, saya hanyalah manusia yang juga ciptaan Allah.
Semua yang saya yakini itu bukan berarti saya mengecilkan malaikat, nabi,
al-qur’an ataupun surga. Seperti al-qur’an yang merupakan kalam Allah, yang
merupakan ciptaan Allah sebagai alat penuntun manusia agar kita tetap menuju
jalan Allah. Allah menciptakan Al-qur’an juga sebagai alat kita untuk
berdemokrasi, apakah kita akan menjalankan kehidupan kita seutuh-utuhnya menuju
Allah atau kita bernaung al-qur’an walaupun berbulu serigala. Yang jelas Allah
sudah memberikan demokrasi dengan cara menurunkan Al-qur’an untuk semua
manusia.
Pernah
suatu hari saya sedang berkunjung ke ulama besar. Saat itu saya bertanya
pertanyaan yang sama dengan yang di atas, apakah saya boleh merubah makna dari
kalimat syahadat yang biasa orang umum pakai. Saat itu pula beliau menggebrak meja dengan sangat keras dan wajah merah
memadam. Saya tidak pernah melihat beliau yang berperangai halus dan baik
tiba-tiba menjadi sangat marah. Saya tahu kalau beliau tidak akan pernah
menoleransi apabila berkaitan dengan yang namanya tauhid. Anehnya, saya merasa
tenang dan yakin. Dengan rileks saya menjawab seperti yang ada di dalam tulisan
tersebut, saya jelaskan dengan sedetail-detailnya hingga beliau tiba-tiba
mengajak salaman dan berkata “itu adalah syahadat yang benar!” sejak saat itu
saya menggunakan makna dari syahadat itu dalam menjalankan kehidupan beragama.
